Kok Bisa?

Ada sekian banyak takdir yang terjadi dan menimbulkan pertanyaan “kok bisa?” dalam hidup ini. Tidak harus terjadi pada diri sendiri, tapi bisa juga dari pengalaman-pengalaman orang-orang yang ada di sekitar kita.

Dari cerita mahasiswa saya kemarin misalnya. Siapa yang tau kalo pas mau demo robotnya gak jalan sama sekali? Gak ada. Bahkan yang punya robot aja yakin banget projek mereka sukses besar.

Kok bisa? Entah.

Kisah yang serupa juga pernah terjadi pada teman-teman saya menjelang demo tugas akhir sebagai salah satu syarat yudisium. Alat yang akan didemokan tiba-tiba benar-benar tidak bisa dijalankan saat penguji dipanggil. Cerita lain malah terjadi sebaliknya, tiba-tiba saja respon kontroler yang masih acak-acakan jadi berjalan super mulus di hadapan penguji.

Kok bisa? Entah.

Ada juga orang yang biasa-biasa saja, mahasiswa biasa yang cumlaude saja tidak pernah. Prestasi akamdemik juga tidak ada karna dulunya terlalu sibuk dengan sekian banyak organisasi. Kemudian dia jadi dosen. Sedangkan saingannya, orang yang pernah ditolak oleh tempatnya bekerja adalah orang yang menurutnya punya kemampuan yang jauh lebih baik dari dia. Cumlaude. Double degree. Mahasiswa teladan. Tapi ditolak.

Kok bisa? Entah.

Dalam perlombaan robot sekelas abu robocon pun pernah terjadi. Tidak ada yang pernah menyangka sama sekali kalo tim itu akan menang. Bayangkan saja, negara-negara lain menggunakan ic terbaik, sistem embeded yang terbaik untuk robotnya, sedangkan Indonesia? Hanya menggunakan bahan-bahan semiconductor biasa. Final adalah pertaruhan bahwa tangan Tuhan yang bekerja 100%. Tegangan kerja dari komponen dinaikkan drastis, bahkan melebihi kapasitas yang diijinkan oleh komponen tersebut. Hasilnya apa? Robot bisa berjalan sangat amat cepat, tapi sesudah itu robot terbakar dan tidak bisa bekerja sama sekali. Qadarullah, Indonesia menang. Itu cerita abu robocon bertahun-tahun yang lalu. Mahasiswa yang dulu ikut kompetisi itu sekarang sudah jadi pembimbing robot.

Kok bisa? Qadarullah.

Pertanyaan-pertanyaan “kok bisa?” yang bila dipikir itu susah sekali dijangkau hanya bisa dijawab dengan itu. Nyatanya, Allah memberikan takdir terbaik pada kita dengan cara yang tidak selalu menyenangkan untuk memberikan pelajaran pada kita.

“Sudah usaha maksimal kok hasilnya gak maksimal? Apa karna saya kebanyakan dosa ya?”

Belum tentu.

Kita tidak bisa menjangkau kenapa takdir kita terjadi demikian. Allah yang Maha Tau yang terbaik bagi kita, bahkan hal yang tidak kita sukai sekali pun.

Hal menarik yang diajarkan oleh ayah dan ibu Muhammad Al-Fatih saat muda:
“Konstatinopel bisa kamu taklukkan kalau kamu rajin belajar. Teruslah berdo’a dan beribadah karna kemenangan itu semua datangnya dari Allah.”
Sekian tahun kemudian, setelah ditempa ujian bertubi-tubi, Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Konstatinopel dengan bekal keahlian berperang yang luar biasa, pasukan yang digembleng dengan begitu luar biasa, dan tentu saja dengan pertolongan Allah.

Mari kita belajar dari sekian banyak cerita yang terjadi di sekitar kita agar kita berhenti untuk mendongakkan kepala dan membusungkan dada. Kita bukan apa-apa. Terlalu miskin dan lemah rasanya untuk menyombongkan diri dihadapan orang lain.

Semoga kita dihindarkan dari sifat yang demikian. Semoga hati ini selalu dilembutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s