Cinta Karena Allah

Surabaya, 16 Desember 2016

Ada sebuah cerita tentang pasangan pengantin baru yang sedang bertengkar kecil hanya karna si suami tidak bisa menunjukkan keromantisan dalam keluarga kecil mereka. Sang istri sedikit kesal karna suaminya gitu-gitu aja, bahkan ketika istrinya memberikan kejutan pada suaminya pun, ekspresinya begitu datar.

“Mas, katanya pacaran itu dalam Islam adanya setelah menikah. Kita lo udah nikah, kok gak ada romantis-romantisnya sih? Masa gini-gini aja sih. Kita dulu sebelum nikah, pacaran aja gak pernah. Trus setelah nikah nikmat pacarannya juga gak ada. Kan Adek juga pingin ngerasain itu macem abg abg labil itu.”

“…………..”

“Mas, sayang gak sih sama Adek?”

“Ya sayang lah. Tapi wujud sayang Mas ke Adek memang bukan seperti itu. Wujud sayang Mas ke Adek ya tentang bagaimana memastikan kita sama-sama masuk surga bareng.”

Tapi ternyata si istri masih belum puas, dengan nada sedikit memelas pada suaminya, “ya tapi kan Adek juga pingin diromantisin dikit Mas.”

***

Cinta itu sebenarnya adalah anugerah yang diberikan pada kita. Tapi cinta bisa juga menimbulkan perkara baru, kemungkinan untuk bermaksiat, dan kemungkinan untuk mencintai hamba atau bahkan ciptaan melebihi Allah. Ini konteksnya luas, ya orang tua ke anaknya, ya anakbke orang tua, atau suami/istri terhadap pasangannya. Atau bisa juga tentang kecintaan pada materi, pekerjaan, dll yang terlalu besar hingga mengalahkan cinta kita pada Allah.

“Aku mencintaimu karna Allah.”

Sekian tahun yang lalu, teman saya yang katanya terpaksa pacaran untuk menenangkan hati neneknya menunjukkan pesan singkat pacarnya pada dirinya. Katanya sih adem. Waktu itu sih saya iya-iyain aja. Orang lagi jatuh cinta mah gitu.

Kalo dipikir-pikir model gitu itu modus banget gak sih? Bilang mencintai karna Allah tapi tetep aja maksiat dengan pacaran. Padahal kalo sama-sama tau agama, ya gak bakalan pacaran sampai nikah. Kalo sama-sama mencintai karna Allah ya akan terus menjaga hatinya untuk tetap istiqomah di jomblo sampai nikah. Aneh kan jadinya? Sinkronnya dimana gitu.

Atau contoh lain..

Orang tua kepada anak. Bila mereka menyayangi anak-anaknya karna Allah tentu saja berusaha sebaik mungkin menjaga anak-anaknya terhindar dari panasnya api neraka.

Kedua contoh di atas bukan berarti tidak ada cinta dalam keduanya. Ada. Orang tua mana sih yang gak cinta sama anaknya. Kalo pacaran ya masa sih gak ada cinta-cintaannya, sekali pun saya yakin 100%, cinta itu datang di awal, selebihnya hanya nafsu saja. Sayangnya pelakunya gak sadar. Oke, ini pengakuan. Saya dulu gitu. Makanya nawar ke Allah.

“Ya Allah, incip dikit aja gapapa kan ya?”

Sekarang udah sadar, mencintai waktu saya pacaran saya lebih banyak memikirkan pacar saya ketimbang Allah. Saya lebih merasa butuh pacar saya dibanding yang lain, ini efeknya kalo saya ada apa-apa larinya ke pacar saya. Saya mengabaikan hubungan saya dengan Allah meskipun kadang ketika saya menyadari bahwa yang demikian itu tidak benar, otak saya membuat suatu pembelaan.

“Gimana dong, udah terlanjur sayang coba.”

Ketika nikmat-nikmat pacaran yang gak halal tadi mulai dicabut sedikit demi sedikit, mulai ada pertengkaran tidak jelas, mulai ada cemburu-cemburu tidak jelas, mulai ada kegalauan yang tidak jelas. Baru saya sadar, “mungkin Allah cemburu.”

***

Guru TPQ saya dulu pernah menerangkan tentang dosa syirik yang sering kita lakukan tanpa kita sadari. Mengabaikan panggilan sholat. Udah adzan tapi masiiih aja asyik belajar, masiiiih aja asyik sama pekerjaan. Ini sudah termasuk syirik. Saya cerita kan ke teman saya dan tanggapannya begini:

“Ya kamu pacaran kan juga termasuk syirik.”

Jduaaar… Iya ya. Mengabaikan panggilan sholat itu sama halnya dengan menduakan Allah. Sedangkan pacaran, sudah jelas-jelas fokusnya kemana. Perintah Allah aja dilalaikan kok.

Mencintai seseorang karna Allah seharusnya memang seperti yang dilakukan sang suami dalam cerita di awal kepada keluarganya, yaitu memastikan semuanya sama-sama masuk surga, menjaga orang yang dicintai agar tidak sampai merasakan panasnya api neraka. Galaunya pasti nanti akan beda.

Kalo kita mencintai karna Allah, pasti akan gelisah ketika orang yang kita cintai tidak sepenuhnya paham dengan hukum-hukum Allah yang membuat mereka mudah untuk melakukan dosa. Misal, kalau saudara perempuan gak mau pake jilbab, jadi galau, trus mikir gimana caranya mengajak supaya mau menutup auratnya. Kecintaan kita yang mendorong untuk menyeru kepada kebaikan, untuk berdakwah. Karna sesungguhnya dakwah itu adalah cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s