Assuming about someone, sometimes

littleschwan:

Ask me before you assume anything, for the worst distance between person is misunderstanding

Priyo Djatmiko

Status facebook pak Priyo Djatmiko ini mengingatkan saya pada kondisi yang saya alami selama kuliah hingga sekarang. 

Manusia suka berasumsi tanpa konfirmasi. Kalau ada orang berkerudung lebar langsung dicap konservatif. Mereka jarang ngasih ruang untuk diskusi. Kenapa sih saya ambil prinsip seperti ini? Kenapa sih saya ngambil sikap seperti itu? Sejauh apa sih saya diizinkan untuk bergaul dengan teman-teman?

Kita langsung pasang barrier seolah ada batas antara anak masjid, anak mall, anak kiri, anak kanan dan yang lain sebagainya. Pernah dapat pertanyaan dari temen:

“Tumben lo mau kulineran sama kita-kita, De?”

“Heh, emang nape bang?”

“Yaa biasanya kan mbak-mbak jilbab lebar risih kalo makan-makan bareng temen di warung. Apa lagi jalan sama anak-anak hedon yang cinta dunia kayak kita-kita?”

“Emang gue pernah bilang kayak gitu ya? Bilang kalo kalian cinta dunia gitu?”

“Ya nggak sih. Tapi banyak anak masjid yang bilang gitu”

“Anak masjid yang mana? Biar gue samperin”

“…..”

Atau yang model gini….Ada temen saya yang cerita kalo dia lagi jalan di kantin pusat sambil bawa Waffle dan minuman. Terus dia ketemu mas-mas yang mau berangkat sholat jumat dan mas-masnya bisik-bisik tapi masih kedengeran. Si mas nya bilang “Cewek kok makan sambil jalan” ato apa gitu ya…saya lupa :p Pokoknya in the end teman saya jadi ngerasa si mas-mas tadi nggak sopan.

Dari kecil saya diajarin kalo berislam itu ada tiga tingkatan. Dari muslim, mukmin sampai muhsinin. Dari yang syahadat doang tapi sholatnya bolong-bolong sampai yang shalih dan menshalihkan. Setiap orang menginginkan kebaikan dan insya Allah semua sedang menuju kesana. Tapi sejauh apa progressnya, cuma Allah yang tahu.

So dari sini kita mustinya belajar untuk berhenti berasumsi, berhenti bikin barrier macem-macem. Mulailah untuk saling berdialog. Stop bikin komentar aneh-aneh.

Memang zaman sosmed kayak gini semakin banyak wadah yang memfasilitasi kita untuk berkomunikasi secara nggak langsung sama orang. Komunikasi sindir menyindir jadi demikian mudah. Ujungnya kalo kita nggak sreg sama tindakan seseorang, kita lebih milih nyindir lewat status daripada menyampaikan secara personal.

Ngelihat ada satu orang ngebom pake kaos bertulisan jihad, langsung ngejudge kalo jihad bagi seorang muslim ya yang model kayak gitu. Ngebom-ngebom orang nggak bersalah. Seolah ajaran islam ya isinya kayak gitu. Nggak ada usaha untuk komunikasi dengan muslim yang lain. Nggak ada usaha untuk nengok, isi Alqur’an sebenernya apa sih?

Lha kalo misalh ada orang nyuri ke rumah kita terus orang itu pake kaos Persebaya, apa iya sih kita langsung bisa nentuin kalo si pencuri ini orang Surabaya yang ngefans sama Persebaya? Nggak juga kan? Pasti butuh penyelidikan yang lebih dalam soal itu.

Atau misal kita ngelihat ada mbak-mbak yang biasa riwa-riwi di GM buat beli make up padahal dia berjilbab, langsung ada tulisan yang ngejudge….”Eh itu berjilbab tapi kok tabarruj. Itu berjilbab tapi kok bajunya mahal-mahal, nggak zuhud”

Manusia itu punya banyak cela. Satu hal yang saya inget dari ustadzah saya dulu….beliau bilang….Amal kebaikan itu dibagi kepada manusia seperti Allah membagi rezeki. Ada orang yang sulit berpuasa, tapi dimudahkan untuk shalat tahajud. Ada orang yang sulit tahajud, tapi dimudahkan untuk shalat dhuha. Ada yang sulit shalad dhuha tapi dimudahkan untuk tilawah. Dan mungkin ada juga yang belum tergerak untuk tampil sederhana tapi di sisi lain hatinya digerakkan untuk banyak beramal.

Dibandingkan bikin asumsi-asumsi jarak jauh yang ujung-ujungnya menyakiti satu sama lain, lebih baik kita berdialog. Siapa tahu interaksi kita bisa menghadirkan hidayah ke hati masing-masing? 

….

“Kenapa lo nggak milih Ahok De?”

“Karena gue bukan warga Jekardah :p”

“Yaakalii De. Andai Lo jadi warga Jakarta gitu, lo bakal pilih ahok nggak?”

“Menurut lo?”

“Enggak”

“Kenapa?”

“Menurut lo?”

“Al Maidah ayat 51 kan?”

“Iya”

…..

Andaikata dialog ini dilanjutkan, kan lebih adem kalo kita dengar

Emang Al Maidah ayat 51 itu sebenernya ngobrolin soal apa sih?

bukan sekedar

Ah elo rasis dan bla bla bla

….

Dan andaikata endingnya tetep deadlock, kan lebih adem kalo kita denger

“Gue hargai pendapat lo sih, meski gue nggak sependapat”

dibandingkan

“Oh jadi lo lebih milih muslim yang koruptor daripada kafir yang bersih?”

……

Berdialoglah untuk mencari titik temu. Bila pada akhirnya yang kita temukan adalah perbedaan, kita insyafi saja bahwa nggak ada satupun makhluk di dunia ini yang diciptakan benar-benar sama. Bahkan kembar identikpun masih punya isi pikiran yang berbeda.

Capek saya baca debat-debat, sindir-sindir nggak jelas dan nggak ada titik temunya ~XD Mintanya toleransi. Tapi yang ada malah ngeyel biar pikirannya sendiri diikuti oleh orang lain.

Ya sudah, selamat saling mengenal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s