Sabar

Surabaya, 7 November 2016

Saya datang ke kampus ini hampir 3 tahun setelah saya lulus. Jadi, mahasiswa tingkat paling akhir yang ada pada tahun itu sebenarnya adalah junior-junior saya yang sering saya brain storming sampai evaluasi. They know who I am. Yang saya syukuri hingga hari ini adalah saya gak ngajar mereka. Gak kebayang gitu gimana rasanya ngajar mereka. Saya datang ketika mereka sedang mengerjakan TA dan sedang mempersiapkan sidang progres TA mereka.

Ada satu mahasiswa yang hingga saat ini masih begitu melekat diingatan saya. Namanya 

Muchammad Sob’run Ib’nu Atfal, biasa dipanggil Sobrun. Sesuai namanya, dia ini orangnya sabaaaaar sekali. Dalam kondisi TA, punya partner yang nggondok tidak mau mengerjakan tugasnya. Alasannya sepele, TA yang mereka kerjakan ini sudah dikerjakan Sobrun jauh sebelum judul mereka disetujui. Si Partner merasa dikhianati. Padahal kalau menurut teman-temannya, seharusnya Si Partner merasa berterima kasih pada Sobrun karna pekerjaannya sebagian besar dibantu oleh Sobrun. Si Partner bahkan ngeyel minta judul baru. Kalau saya yang jadi Partnernya, saya pasti diem aja, alhamdulillah gitu ada yang bantuin, alhamdulillah ada yang ngurangin pekerjaan saya. Tapi tidak dengan si partner. Entah ya, mungkin dia butuh di rukyah. -________-”

Trus kalo saya jadi Sobrun, itu bagiannya dia gak bakalan saya kerjain lagi. Biar aja orang tau kalo dia gak ngerjain apa-apa dan malah sibuk marah-marah. Tapi si Sobrun gak gitu. Setelah tugasnya selesai, pekerjaan partnernya dikerjain pelan-pelan. Sekali lagi kalo saya jadi Sobrun mungkin muka saya udah gak bentuk lagi saking capeknya. Ya capek ngerjain TA, ya capek ngurusin partner yang nggondok gak jelas itu. Tapi Sobrun gak gitu. Setiap kali saya lihat dia, senyum lebar terpampang di wajahnya. Santaaaai banget. Kalo ada yang tanya gimana TAnya, dijawab dengan enteng sambil senyum-senyum “ya dikerjain”. Trus kalo ditanya tentang partnernya, dijawab dengan ekspresi yang sama “ya gapapa, emang gitu orangnya”.

Masya Allah.. anak ini legowonya luar biasa. Sabarnya luar biasa. Saya bandingkan wajah-wajah teman-teman seangkatannya yang semakin dekat dengan sidang TA semakin gak berbentuk, semakin keliatan stressnya. Tapi Sobrun enggak. Wajahnya istiqomah ceria. Saya sering mbatin gini, “Sobrun ini gapapa ta? Apa gak pingin ngamuk-ngamuk? Jangan-jangan dia senyum-senyum karna stress lagi?” Tapi enggak. Sobrun adalah salah satu contoh manusia yang begitu baik memanage pikirannya, mengontrol emosinya, dan memanage pekerjaannya dengan baik. Mungkin juga karna kesabaran Si Sobrun ini, akhirnya Allah menyadarkan partner di detik-detik akhir menjelang sidang TA. Si Partner akhirnya sadar, dia tak lagi merengek minta ganti judul, dan melanjutkan TAnya yang sebagian besar sudah dibantu Sobrun tadi. Si Partner yang awalnya luar biasa gengsi dibantuin Sobrun, akhirnya juga mau menerima bantuan dengan lapang dada.

Happy ending. 🙂

***

إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al-Baqarah:153)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s