Islam Iman Ikhsan

Surabaya, 6 November 2016

Kita gak pernah minta dari rahim mana kita lahir, di kota mana kita lahir, dari latar belakang seperti apa kita lahir. Karna itu Allah juga tidak akan pernah menuntun yang demikian. Sebuah nikmat yang besar sebetulnya bahwa kita lahir sebagai umat Islam hanya karna ayah dan ibu kita Islam.

Tapi sayangnya, Islam saja tidak cukup. Masing-masing orang punya kewajiban untuk mencari tau, memahami, dan mendalami agama mereka seumur hidupnya. Iya, belajar agama tidak dibatasi dengan berapa taun kita menempuh pendidikan formal di bangku sekolah. Belajar agama mestinya menjadi suatu kebutuhan utama yang melekat pada kita. Tujuannya apa? Meraih kenikmatan yang tertinggi, yaitu ikhsan.

Kita sadari bersama, rasakan bersama kondisi keimanan kita hari ini. Ada beberapa orang yang untuk sholat 5 waktu saja itu sulitnya setengah mati, tapi ada juga yang mudah melakukannya bahkan menambahkan sholat-sholat sunnah. Kita sadari bersama kondisi keimanan kita hari ini, bahwa kita masih begitu mudah melakukan dosa dengan dalih khilaf. Hingga kita tak lagi cemas melakukan dosa. Padahal manusia ini diciptakan baik. Defaultnya, setiap manusia yang berbuat dosa akan merasa cemas. Tapi kecemasan itu sedikit demi sedikit akan terkikis bila hati sudah semakin tertutup dengan dosa. Semakin dikeraskan lagi dengan ego, dengan kesombongan bahwa kita sudah cukup tau agama kita. Padahal siapa kita?

Berapa juz yang sudah kau hapal? Berapa ayat yang sudah kau pahami maknany? Berapa ayat yang sudah kau istiqomahkan dalam mengamalkannya? Berapa hadist yang sudah kau dengar? Berapa hadist yang sudah kau pahami? Berapa hadist yang sudah kau laksanakan layaknya Rasulmu lakukan?

Kita saja memahami yang benar-benar wajib belum sepenuhnya utuh. Adakalanya pemahaman agama kita masih berpusat pada hal-hal receh semacam masuk kamar mandi, makan, berbicara. Coba dipikir lagi, kalo hal-hal yang begitu kecil yang ruang lingkupnya masih wilayah pribadi diatur oleh agama apalagi urusan bernegara yang mencakup jutaan orang?

Kita perlu duduk sejenak, meninggalkan aktifitas kita, meluangkan waktu barang 2 jam saja untuk belajar agama. Untuk mengaji, mendatangi majelis ta’lim. Saya pernah ditegur begini ketika saya ngeyel banget dengan ratusan pertanyaan yang seliweran di kepala saya.

“Gak semua orang punya kesadaran ngaji kayak kamu, Lel.”

Saya gak pingin digituin juga sebenernya. Saya gak pingin jadi eksklusif karna sudah ngaji juga. Tapi saya pingin membuka pikiran orang, minimal yang paling dekat dengan saya untuk bisa mau duduk atau minimal nongkrongin youtube yang isinya kajian Islam.

“Aku ngaji kok, tiap hari baca Quran, tiap hari sholat 5 waktu.”

“Tapi beda orang yang beramal dengan tau ilmunya, dengan yang beramal hanya sekedar menggugurkan kewajiban.”

“Aku lo gak ngelakuin maksiat, aku gak bunuh orang, aku gak merkosa anak orang, aku gak korupsi.”

“Apa dosa hanya yang nampak saja? Apa dosa hanya yang bikin orang masuk bui aja?”

Ngaji, menghadiri majelis ta’lim itu penting. Paling tidak untuk menjaga kondisi keimanan kita. Paling tidak ada yang mengingatkan ketika kita mulai futur. Paling tidak ada yang membantu kita untuk mengistiqomahkan amalan-amalan kita.

Berat lo berjuang sendiri itu. Tapi kalo ada temennya, rasanya akan lebih ringan.

Ngaji tidak membuat kita jadi eksklusif. Merasa paaaling baik. Tapi mestinya ngaji membuat kita sadar, bahwa bukan hanya kita yang perlu sadar tapi orang-orang di sekitar kita.

“Sampaikan walau satu ayat.”

Jadi, yuk ngaji. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s