Nikah

Surabaya, 13 September 2016

Sore tadi saya baru saja diberi kabar dari kawan baik saya yang begitu mengejutkan saya.

“Minggu depan aku nikah, Lel.”

Gilak. Seriusan? Gue yang punya rencana dulu dan elo yang dari kemarin-kemarin bahkan kepikiran nikah aja nggak trus sekarang bilang gitu?

Serius saya ingin tersenyum dan ikut berbahagia, tapi nyatanya saya tidak bisa melakukan itu.

***

Teman yang baru saja saya ceritakan ini bukan seseorang yang punya rencana menikah dalam waktu dekat. Dia sudah merencanakan bahwa nanti dia akan menikah saat dia sudah benar-benar siap segalanya, ya materi ya ilmu. Hal paling horor yang baru aja kebuka sore ini, dia pernah bilang ke seseorang yang pernah mengajak dia untuk menikah.

“Kalo aku jadi lakik Mas, aku gak bakal ngajakin anak orang nikah sebelum aku punya rumah.”

Tapi nyatanya, minggu depan setelah akad terucap dia akan memulai kehidupan barunya benar-benar dari nol. Ngontrak di kontrakan sederhana, tidur pake kasur tipis milik calon suaminya yang biasa dipake tidur di kampus, dan banyak hal lain.

Yang menarik adalah pengakuannya ini.

“Kalo bukan sama mas ini aku gak bakal berani nikah, Lel. Aku adalah orang yang gak percaya bahwa nikah itu dilakukan karna Allah. Ada begitu banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk menikah. Tapi saat ini apalagi yang mau aku cari, untuk apa aku kayak gini, kalau bukan untuk menghamba ke Dia.

Aku yakin sama dia karna dia yakin sama aku. Aku yakin sama dia karna agamanya, Lel. Aku yakin sama dia karna dengannya aku jadi kenal Islam, karna dengannya gak ada lagi yang aku pingin selain menghamba kepada-Nya.”

Asli saya nangis denger dia bilang gitu. Subhanallah. Betapa besar kuasa Allah pada makhluknya. Saya tau dia kemarin seperti apa. Saya tau bagaimana labilnya dia. Saya tau bagaimana dia berusaha mengorek semua ilmu dari sahabat-sahabatnya untuk menguatkan kelabilannya tadi. Kemudian dia bilang seperti itu.

Begitulah cara Allah bekerja.

***

Insya Allah minggu depan mereka akan menikah, tepat pada bulan baik ini.

Saya belajar dari peristiwa ini. Menikah bukan tentang siapa yang paling baik, siapa yang paling siap, atau siapa yang paling mapan. Semuanya Allah yang menentukan. Allah yang mengatur, Allah yang memutuskan. Teman saya ini kalo dilihat-lihat ya ababilnya masih parah, ya masa dia mau nikah seminggu lagi tapi takut gabisa masak, takut berhubungan badan sama suaminya, takut punya anak, dan ketakutan-ketakutan lain yang menurut saya, “lo ngapain sih mikir kayak gitu?”

Tapi Allah berkehendak lain. Sungguh. Allah punya skenario lain untuk mereka berdua hingga akhirnya mereka bisa begitu mudah menjadi satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s