slesai

satriamaulana:

“The more you express gratitude for what you have, the more likely you will have even more to express gratitude for”

Ada hal sederhana yang baru saya sadari selepas bebersih tadi pagi: selama ini saya baca doa sebelum masuk kamar mandi tapi lupa baca begitu keluar. Selidik punya selidik, kebiasaan itu juga melekat di aktivitas lainnya. Berdoa sebelum makan, enggak berdoa sesudahnya. Berdoa sebelum pergi, enggak berdoa sesampainya.

Berdoa sebelum tidur pun sering lupa doa sebangunnya. Padahal nyawa mungkin enggak balik lagi ke jasad begitu kita terlelap atau malah mirip kejadian sepasang saudara kandung yang dikarenakan mengidap penyakit langka, mereka terancam enggak akan pernah bisa tidur lagi seumur hidupnya. Kenapa doa yang “sebelum-sebelum” cenderung lebih akrab ketimbang yang “sesudah-sesudah” ya?

Apa mungkin karena kita selalu menganggap bahwa awalan lebih penting dari akhiran? Padahal, sesuatu dianggap gagal kalau berakhir dengan enggak semestinya. Bagian akhir jadi tahap krusial untuk menyempurnakan proses yang telah berjalan. Ibarat mengolah si kulit bundar, penguasaan bola sebanyak apapun enggak akan terlalu berarti kalau di akhir pertandingan malah kekalahan yang diperoleh. Untuk setiap penghujung baik di banyak cerita hidup, kita memang hanya layak mengharap rida-Nya. 

Barangkali selama ini saya cuma berdoa untuk menyurutkan kekhawatiran di awal aja. Takut ada apa-apa di jalan, takut mules gara-gara makanan, takut tidurnya keganggu mimpi buruk. Namun juga, barangkali selama ini, syukur yang dilangitkan belum mewujud sebagai ungkapan terimakasih yang tulus atas limpahan keberkahan-Nya. Selamat sampai di tujuan, pencernaan sehat, tidur dengan nyenyak. Sebetulnya, selalu ada alasan untuk bersyukur. Namun sayangnya, kesesuaian yang terjadi berulang juga berulangkali melalaikan kita.

Kita perlu menyejajarkan peran akhiran seperti halnya awalan. Khidmatkan ungkapan syukur setuntas menikmati perolehan apapun dengan lapang dada seperti halnya kita mengkhidmati bacaan doa sebelum memulai apapun dengan penuh pinta. Jaga kebaikan untuk terus menetap seperti halnya saat kita terus menjaga diri waktu belum tau ujungnya gimana.

Kalau kunci kebahagiaan adalah ketenteraman, maka kunci ketenteraman adalah rasa syukur. Jangan lupa bersyukur untuk jadi bahagia karena dengannya, kita enggak akan pernah kehabisan alasan untuk merasa bahagia. Ingatlah hari-hari di masa lalu ketika kita pernah amat berharap untuk masa kini yang tengah dinikmati. Lihatlah juga orang-orang di tempat lain yang terus berharap untuk masa kini yang tengah kita nikmati. Sudahkah kita menutup hari ini dengan syukur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s