Beda Kodrat

Surabaya, 4 September 2016

Saya agak tersentil dengan tulisan Prof. Joni Hermana, rektor ITS tentang sambutan beliau kepada mahasiswa baru. Dalam tulisan itu, beliau menyampaikan bangganya karna sekarang mahasiswa ITS sudah mulai menjangkau banyak perempuan. Hingga kini perbandingan antara laki-laki dan perempuan bisa menjadi 1:1. Yang menarik adalah pesan beliau pada para mahasiswi baru. Sekali pun mereka hidup dalam lingkungan dengan laki-laki sebagai mayoritasnya, jangan melupakan kodrat sebagai perempuan.

Saya ini sebenernya termasuk pengagum Kartini. Saya gak peduli bagaimana cara beliau memperjuangkan sekolah untuk perempuan, tapi saya amat setuju bila perempuan harus mendapat kesempatan yang sama untuk mencari ilmu. Sayangnya, brand emansipasi yang dipunggawai Kertini dulu sekarang ini bikin perempuan semakin lupa dengan kodratnya. Sering senggol-senggolan dengan aturan Sang Pencipta. Padahal, aturan itu justru dibuat untuk melindungi perempuan. Karna perempuan begitu istimewa.

Kata emansipasi yang bikin perempuan mengejar karier di luar sana, tapi lupa bahwa tugas utamanya adalah menjadi ibu.
Kata emansipasi yang bikin perempuan bergaul dengan mudah dengan lawan jenis, tapi lupa bahwa ada batasan di sana.

Akibatnya banyak..

Anak yang jadi korban. Tau kan kalau anak adalah milik masa depan. Kalau pingin masa depan jadi lebih baik, ya kudu mempersiapkan generasi penerus lebih baik. Tentu saja berusaha keras, jadi calon ibu yang baik untuk calon-calon penerus bangsa.

Pergaulan bebas. Tau kan gimana maraknya kasus pelecehan seksual di negeri ini? Makin kesini saya makin merasa bahwa kriminalitas itu terjadi tidak hanya kesalahan dari pelaku. Bisa aja korban yang (tanpa sadar) mancing perkara.

Mau ngeyel kayak gimana juga lakik sama perempuan itu beda. Kapasitas yang dikasi itu beda. Cara pipisnya beda, bentuk fisik beda, kecenderungannya juga beda, cara mikirnya beda, banyak lah bedanya.

Dulu banget saya sering mikir gini,
“Kenapa cuman lakik aja yang boleh? Emangnya salah kalo perempuan yang lakuin itu? Kan enggak.”

Saya salah. Ada beberapa hal yang memang bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Tapi ada juga beberapa hal yang SEHARUSNYA dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Ada juga beberapa hal yang HANYA BISA dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Ternyata, kalo yang seharusnya tadi tukeran posisi jadinya malah gak baik. Kok ya ndilalah selama 7 bulan ini saya dapet contoh pertukaran posisi dan output yang dihasilkan secara langsung di waktu senggang saya. Ini bukan kondisi darurat yang mengharuskan pertukaran posisi itu. Tapi ya gitu deh.

Kenapa sih kok ya kita kudu jalan sesuai kodrat? Kenapa kok kita disetting kayak gitu? Dan bla-bla-bla..

Banyak yang gak kita ngerti dengan kondisi yang seperti ini. Tapi kita harus yakin, bahwa takdir yang Allab kasih adalah hal terbaik yang dikasih untuk kita. Maka dari itu, maka syukurilah dengan berjalan sesuai kodrat dan ketentuan yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s