Pakaianmu Penjagamu

Surabaya, 14 Juli 2016

Kira-kira 2 tahun yang lalu, saya pernah iseng nanyain sesuatu ke sahabat saya yang kebetulan jenis kelaminnya laki-laki. Pertanyaan iseng sih sebenarnya, sembari membuktikan sesuatu.

“Kon tau gak nafsu karo aku?” (”Kamu pernah gak nafsu sama aku?”)

“Kon lapo takon ngunu iku?” (Kamu ngapain tanya gitu?”)

“Gapopo, pingin ngerti ae.” (”Gapapa, cuma pingin tau aja.”)

“Gak kok, gak tau.” (”Gak pernah kok.”)

Begitu pengakuannya malam itu, saat kami sedang dalam perjalanan untuk makan malam bersama. Siangnya, saya baru tahu kalau pengakuannya malam itu bohong. Dia tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya terjadi karena di dalam mobil yang kami tumpangi saat itu juga ada perempuan lain. (Emang gue bukan cewek? –”)

Siang itu, kebetulan hanya saya perempuan yang ada di Lab TA. Dimulai dari pertanyaan serupa kenapa saya begitu ingin tau tentang itu dan diakhiri dengan penjelasan panjang serta nasihat untuk saya.

“Kalau kamu tanya apa aku pernah nafsu waktu lihat kamu atau gak, jawaban sejujurnya adalah iya.”

“Kok bisa? Aku lo pake kerudung, bajuku juga rata-rata longgar-longgar semua, ya emang sih masih sering pake skinny jeans.”

“Kamu pake pakaian tertutup pun kalau lagi nafsu, aku bisa lihat kamu seakan lagi telanjang di depanku.”

Gila!

“Iya, aku tau pakaianmu longgar, pake kerudung, badan juga gak seksi-seksi amat, lurus-lurus aja gak ada yang menonjol, gak kayak si tokbrut (ini singkatan, dan saya rasa tidak perlu menjelaskan kepanjangannya) itu. Tapi tetep aja pernah. Kalau udah ON, mau gimana lagi?”

“Lah terus gimana?”

“Ya dikendalikan. Tidak selamanya nafsu itu untuk dilampiaskan. Nanti lama-lama juga ilang sendiri. Makanya kalau pake baju yang bener. Kami gak bisa jamin perempuan dengan pakaian tertutup sekali pun bisa lepas dari imajinasi liar itu. Tapi setidaknya dengan pakaian tertutup itu akan mengurangi kadarnya. Ya, paling gak kalau bayangin gak lama lah, sungkan soalnya.”

***

“Dijadikan indah pandangan manusia terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah-lah sebaik-baik tempat kembali” –  Q.S. Ali Imran 14

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sebenernya tulisan ini dibikin karna setengah jengkel sama perempuan-perempuan yang gak merasa udah mancing perkara trus nyalahin laki-laki kenapa kok dia begitu ke dia. Sudahlah, kita sepakati saja bahwa laki-laki itu punya default dari orok yang begitu. Yang bikin begitu bukan dia tapi Sang Pencipta. Masalah dia bisa mengendalikan dirinya atau bukan, itu memang sepenuhnya kuasa dia. Tapi setidaknya, berpakaian yang tertutup, sopan, tidak menonjolkan lekuk-lekuk tubuh, apalagi yang bikin laki-laki tergoda adalah salah satu bentuk bukti toleransi kita pada laki-laki.

Kita sering bete kan kalau ada orang ngrokok di deket kita. Mungkin aja di antara jutaan laki-laki itu ada yang begitu.

“Gile aja, gue disuruh nahan diri, lah mereka tiap hari nawarin paha. Apa gak minta dicetol tuh namanya?’

Sayangnya, kita bisa aja negur mereka yang ngrokok buat menjauh. Tapi mereka tidak. Dia negur bisa-bisa dikatain pelecehan seksual.

Kita tidak bisa mengendalikan jutaan laki-laki dengan default seperti itu untuk tidak membuat imajinasi aneh-aneh waktu liat perempuan. Tapi setidaknya, kita, perempuan, bisa mengendalikan diri kita sepenuhnya untuk tidak menjadi korban pelecehan seksual. Caranya, pake baju yang bener. Jangan jadi etalase berjalan. Kita bukan pisang goreng yang dijual dipinggir jalan yang bisa ditowel-towel buat tau mash anget atau enggak kan? Kita jauh lebih terhormat dari itu. Kita bisa kok jadi kue-kue di bakery yang kalau mau nowel kudu bayar dulu, yang tempatnya lebih eksklusif, yang harganya juga lebih mahal.

***

“Dan katakanlah kepada laki-laki beriman, agar menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (30). Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendakalah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak memiliki keinginan terhadap perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung (31).” – Q.S. An Nur 30-31

©Aprilely Ajeng Fitriana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s