hadiah

satriamaulana:

“What is important is not how much we have, but how much barakah there is in what we do have”

Saya inget sama pengalaman waktu ngajar kewirausahaan di kampus almamater taun lalu. Di tengah pengumuman acara keakraban kelas lewat pertandingan futsal, muncul pertanyaan dari mahasiswi di baris tengah, “Ada hadiahnya enggak, kak?”. Saya mengawali tanggapannya dengan tersenyum simpul lalu berujar, “Kalau yang kamu maksud bingkisan, enggak ada. Tapi selainnya, ada. Kamu jadi lebih sehat dan akrab sama temen-temen. Cukup enggak?”.

Saya pun menukil secuil intisari pengalaman berwirausaha selama sewindu terakhir buat mereka. Soalnya untuk para wirausahawan pemula, penempatan pola pikir terbilang penting sebagai modal untuk mengarungi perjalanan berniaga. “Nanti kalau hadiah selalu dianggap sebagai bingkisan, kalian bisa luput sama bentuk hadiah lain lho. Ibarat rejeki, kalau mutlak dianggap sebagai uang, kalian bisa jarang bersyukur. Soalnya satu dari sekian banyak hadiah buat bisnis mungkin bentuknya kepercayaan. Apa jadinya kalau misal pelanggan dan pemasok enggak percaya kita lagi?” pungkas saya.

Untuk sebagian orang, hadiah bermakna benda-benda penyemarak suasana hati. Ia mencakup perhiasan, pakaian atau bahkan kendaraan. Buat sebagian yang lain, hadiah berbentuk seluruh rejeki yang disediakan-Nya untuk semua makhluk dalam mengarungi hidup secara berkelanjutan. Ia mencakup peran organ-organ tubuh yang bergulir otomatis, udara yang segar untuk dihirup atau flora-fauna yang bertautan di skema rantai makanan. Beda makna, beda pula rasa syukur yang terlahir.

Juga terselip kata “berkah” di balik obrolan menyoal rejeki. Konon, cuma ada sedikit kebermanfaatan dari rejeki yang enggak berkah – segimanapun berlimpah. Sering kita simak kisah kemakmuran yang justru membikin si empunya tambah gelisah. Disimpulkan dari tulisan seorang ulama, berkah berarti ketenteraman yang menetap dan berakarkan ketaatan kepada-Nya. Dengannya, kita dibuat lebih telaten untuk mengamati dua hal penting setelahnya. Seberapa luas arti rejeki? Dari tiap pertambahannya, akankah ia makin mendekatkan atau menjauhkan kita dari kebahagiaan?

Makanya kenapa, saya ngerasa perlu membagi pola pikir tentang makna rejeki di kelas pagi itu. Toh tanpa uang yang banyak, bisnis bisa berlangsung lancar karena disokong oleh kepercayaan pelanggan dan pemasok yang baik. Dengan keyakinan pelanggan, kita enggak kehilangan pembeli. Dengan keyakinan pemasok, kita enggak kehilangan suplai bahan baku. Keduanya cukup jadi alasan penting buat para wirausahawan kenapa kepekaan yang dipunya harusnya bisa memantik rasa syukur karena perniagaan mereka jadi titik perantara dari sambungan jalur rejeki-Nya yang terbentang maha panjang.

“Misalkan saya penggemar baso ikan. Siapa sangka kalau ikan-ikan tenggiri yang lagi asyik berenang di Samudera Hindia, tersangkut jaring nelayan pesisir, disayat, dibekukan dan dikirim ke pengepul di Bandung lalu nyampe di tangan penjual baso untuk diolah. Belum lagi aneka bumbu dan rempah yang tersebar di seantero Pulau Jawa. Semua keanekaragaman hayati itu bermuara di panci abang baso yang meneruskan olahannya ke perut saya. Betapa jauh petualangan para ikan di laut selatan hingga berlabuh di pencernaan saya. Betapa bermanfaat perjalanan panjang itu sehingga menyebabkan banyak pihak kebagian mencicipi manisnya perguliran rejeki”

Sejarah pernah mencatatkan orang-orang saleh di masa lampau yang berujar tentang kunci ketenteraman, “Ridhalah terjadap ketetapan-Nya, maka kau akan menjadi manusia yang paling bahagia. Dan ridhalah terhadap pembagian-Nya, maka kau akan menjadi insan yang paling kaya”. Ternyata, untuk merasa bahagia dan kaya, keridaan amat dibutuhkan sehingga keberlimpahan hadiah dari-Nya terasa begitu menyemarakkan hati saat ia hadir dalam bentuk apapun. Dengan syukur, kesempitan mana yang enggak terasa melapang? Dengan syukur, pemberian apa yang enggak terasa mencukupi?

Yang berlimpah, belum tentu berkah. Yang berkah, insya Allah berlimpah. Inginnya, ikhtiar kita terarah untuk menjemput yang berlimpah juga penuh berkah. Karena, apalah artinya saat yang berlimpah jadi musabab datangnya musibah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s