jagungrebus:

Setahun belakangan, saya menjadi orang yang alergi pada penolakan dan kegagalan. Mungkin karena belum baik mengelola emosi dan ekspektasi atas semua hal (yang saya anggap buruk) yang terjadi. Sehingga butuh semangat dari orang-orang terdekat untuk menguatkan. Thank’s for all of you guys, i really love yall (you all). 

Beberapa waktu lalu, penuh ketakutan saya mencoba lagi seleksi beasiswa favorit para pemburu beasiswa, setelah pada percobaan pertama saya gagal di tahap interview. Saya takut gagal lagi, saya takut sekali. Karena kesempatan apply hingga tahap interview hanya dua kali, jika sudah gagal dua kali maka hangus sudah kesempatan mendapatkan beasiswa tersebut.

Berangkatlah saya, gelandangan di belantara Surabaya. Entah berapa kali berganti go-jek (Oh God, terima kasih Kau ciptakan manusia hebat yang mendirikan Go-Jek). 

Dan seperti biasa, sebaik apapun persiapan saya, selalu ada saja accident di lokasi. Barangkali hidup saya memang dirancang Allah untuk begitu, ndak boleh mulus berjalan.

Hari itu saya sangat berterima kasih pada diri sendiri yang mau berteman dengan ketakutan. Menerima bahwa ketakutan itu ada, tapi tidak untuk menghentikan langkah. Menerima bahwa saya pengecut, saya butuh orang lain untuk membuat saya tidak menyerah. Ya, barangkali jiwa saya masih lemah. 

Sebagai rasa terima kasih, saya menghadiahi diri saya sendiri dengan nonton Zootopia di Tunjungan Plaza, sendirian, naik go-jek lagi. Asik ternyata, sebelah kursi pun ada yang sendirian, sayang sama-sama cewek. Dan di pojokan ada yang sedang pacaran. Elah pacaran kok nonton kartun. Nonton horror kek.

Nonton sendirian itu menyenangkan. Tidak ada yang mengajak ngobrol, tidak perlu berbagi cemilan, tidak perlu jaim kalau ingin menangis atau tertawa, dan tidak ada yang megang tanganmu.

OST Zootopia ini kemudian menjadi lagu favorit saya. Ingat ndak jaman anak-anak kita tidak pernah takut gagal? Kita berani sekali ikut lomba ini itu meskipun pulang kadang hanya bawa donat. Kita tidak berpikir bahwa kita akan gagal. Kita hanya berpikir kita harus mencoba.

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengikuti seleksi karyawan sebuah perusahaan multi nasional. Di mana saya tahu pasti akan gagal. Pesan ibu saat itu, meskipun kamu tahu akan gagal, berusahalah sekuat tenaga, apapun hasilnya

Let’s try everything, even thought we could fail.
Sometimes we come last, but we did the best.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s