Keluarga.

likalulu:

Keluarga adalah satu kata, dengan banyak arti yang berbeda.
Orang-orang memiliki banyak cara untuk mendefinisikan sebuah keluarga dan apa
yang menjadi bagian berarti dari keluarga mereka. Keluarga berbeda dalam hal
ekonomi, budaya, sosial, dan banyak aspek lain, tapi setiap keluarga memiliki
kesamaan yaitu orang-orang di dalam keluarga adalah orang-orang penting di
kehidupannya.

Hubungan yang kuat dan penuh kasih adalah inti dari
kehidupan. Cinta memang merupakan insting dasar manusia, namun berbagi hidup
dengan orang lain tidak selalu mudah. Dan hal itu di bentuk di unit terkecil
yang disebut keluarga.

Kamus mendefinisikan keluarga dalam beberapa cara. Salah satu
definisi adalah “kelompok sosial yang mendasar dalam masyarakat biasanya
terdiri dari satu atau dua orang tua dan anak-anak mereka.” Sementara
definisi lain keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat
di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Makna lain dari
keluarga bagai sebuah bahtera, di dalamnya kita harus saling mendukung. Mengisi
peran satu sama lain dengan baik. Ada yang menjadi nahkoda, ada yang menjadi
koki, awak kapal dll. Berada dalam satu “wadah” yang sama, satu keluarga.
Menuju satu tujuan, berlabuh sebentar, kemudian berjalan lagi bersama-sama.
Tidak saling meninggalkan satu sama lain.

Satu langkah awal dalam membentuk keluarga adalah pernikahan.
Sebuah perjanjian sangat penting dimata sang Pencipta dengan sebutan Mitsaqan
Ghaliza (perjanjian yang kukuh). Bersatunya dua individu yang berasal dari
keluarga dengan budaya berbeda, yang kemudian membangun keluarga baru.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum 39:21

Menurut Ust. Salim A Fillah, dengan mengutip surah Ar-Rum:
21, menjalani keluarga yang berbahagia itu bukan sekadar tenang tanpa adanya
riak, melainkan mampu membawa ke nyamanan (litaskunuu ilaiha) bagi rumah
tangga. “Kuncinya ada 2, yakni menjaga kesucian dan menjaga ikatan lahir batin
antara suami istri”.

Menjaga kesucian adalah tujuan utama pernikahan, yakni
membuat suami dan istri terjaga dari dosa ketika berumah tangga. Artinya,
keberkahan rumah tangga diukur dari seberapa besar keluarga tersebut
mendekatkan diri pada Allah.

“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah
Dia menciptakan dari jenis kamu pasangan-pasangan agar kamu (masing-masing)
memperoleh ketentraman dari (pasangan)-nya dan dijadikannya di antara kamu
mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir”. Tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada hanyalah
pasangan yang tepat bagi kita.

Ikatan tersebut dinamai Allah “mitsaqan ghaliza” hanya ditemui
tiga kali dalam Al-Qur’an. Pertama yang disebut di atas, menyangkut perjanjian
antara suami-istri, dan dua sisanya menggambarkan perjanjian Allah dengan para
nabi-Nya dan perjanjianNya dengan umatNya dalam konteks melaksanakan
pesan-pesan agama. Perjanjian antara suami-istri sedemikian kukuh, sehingga
bila mereka dipisahkan di dunia oleh kematian, maka mereka masih akan
digabungkan oleh Allah di akhirat setelah kebangkitan.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yasin 36:56 ; “…mereka
bersama pasangan-pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh.” Bahkan semua
anggota keluarga ikut bergabung: “Surga Adn yang mereka masuki, bersama
orang-orang dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan dan anak cucu mereka dan
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu..” QS. Ar-Rad
13:23

Dalam kehidupan berumah tangga, untuk menciptakan sakinah,
ketenangan batin, dan kebahagiaan ruhani, tekad suami dan istri untuk hidup
bersama merupakan faktor terpenting. Ini disebabkan karena tekad bersumber dari
lubuk hati yang terdalam serta jiwa yang suci. Dan seperti kita semua tahu,
manusia, kendati badannya berubah punah, namun jiwanya tidak demikian.
Dinyatakan bahwa jiwa manusia kekal sesuai dengan kekekalan ruh dan karena itu
pula, sebagaimana dinyatakan oleh Al Qur’an, kelanggengan hidup bersama sebagai
pasangan suami istri berlanjut hingga hari kemudian. Ini tentu saja selama
kehidupan rumah tangga mereka dijalin dan dibangun oleh nilai-nilai ilahi.

Itu sebabnya pula, pernikahan yang didasari oleh penyatuan jiwa
tidak akan pernah punah atau layu dalam kehidupan ini. Memang ada permulaannya
tetapi tak ada akhirnya. Selanjutnya, karena pernikahan  yang didasari oleh cinta yang suci demikian
itu halnya, maka pasangan suami istri tidak akan pernah merasa jemu, tidak juga
merasakannya sebagai rutinitas yang membosankan dalam hidup.

Untuk mewujudkan hal tersebut, agama membekali manusia dengan
potensi dalam dirinya, disamping ketetapan hukum yang tidak berubah, serta
tuntunan dan petuah yang bila diindahkan, maka insya Allah, dampaknya adalah
surga di dunia dan di akhirat.

“…dan orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah
kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)
dab jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” QS Al Furqon 25 : 74

special gift for Balqis & Rifqi

28.2.2016

created by : Lika Lulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s