Perempuan dan Kebiasaan Menikmati Sakitnya

melisalalalaa:

Wait. No, I’m not want to talk about masochistic or any BDSM thing. Haha. No, although that subject is so tempting to discuss. But no, so don’t worry.

Let’s start with PMS (Pra Menstrual Syndrome), yang saya lihat di Wikipedia pengertiannya adalah 

kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Sekitar 80 hingga 95 persen perempuan  pada usia melahirkan mengalami gejala-gejala pramenstruasi yang dapat mengganggu beberapa aspek dalam kehidupannya. Gejala tersebut dapat diperkirakan dan biasanya terjadi secara regular pada dua minggu periode sebelum menstruasi.

Nah, gejala fisik, psikologi, dan emosi di sini sudah pasti gejala yang tidak mengenakkan. Beberapa merasa badannya berubah di bagian-bagian tertentu, sakit jika tak sengaja disentuh, tapi kacaunya hormon malah mendamba untuk mendapat sentuhan lebih. Sialan! Untuk perkara emosi, sepertinya semua sudah paham bahkan khatam di luar kepala bahwa perempuan PMS jauh lebih menakutkan daripada Bos yang gagal mencapai target. Gimana kalo Bosnya wanita, dan gagal mencapai target, dan bermasalah dalam rumah tangganya? Oh, God, just get your ass out of that place. Okay, I’m kidding. 

Saya tidak terlalu paham apa istilahnya, yang mana yang benar, saya hanya berusaha memahami yang terjadi pada tubuh saya. Yang saya tahu, gejala unik ini tidak terjadi sama persis pada setiap wanita. Untuk saya, menjadi lebih gampang marah adalah sudah pasti. Saya juga menjadi cepat sekali lapar. Swing mood? Definitely happen. Sebentar saya sedang tersenyum-tersenyum sendiri, beberapa menit kemudian saya berusaha menahan hasrat untuk tidak membanting cangkir kopi yang saya minum. Ya, saya paham, katakanlah 90% perempuan PMS mengalami ini, tapi saya rasa hal ini tidak membenarkan saya berhak menuntut berbagai pemakluman. “Ya kan aing lagi PMS! Ngertiin, lah!”, hahaha. Ini konyol. Saya yang tahu bagaimana kondisi fisik dan jiwa saya, dan saya yang tahu apa-apa saja yang sekiranya mampu memicu amarah saya. Jadi, daripada meminta “dikasihani”, saya lebih memilih meminalisir tragedi yang mungkin terjadi. Apa yang biasa saya lakukan:

  • “Baby, i think im on my PMS. So i will stay away from you for a while. I won’t something fool makes me want to kick your beautiful face. You know i love you, right? Stay safe there. Iya, saya akan menjauhkan diri dari pasangan. Yang paling memungkinkan memicu amarahmu adalah pasanganmu. Karena kita merasa tak apa melepas topeng saat bersamanya. Tanpa sadar, kita akan menuntut untuk lebih dimengerti, dimaklumi, dituruti segala permintaan tak masuk akalnya. Percaya saja, kondisi absurd kita susah dimengerti. Lebih aman menjauh dari apapun dulu.
  • Tidak menyetir sendiri dulu. Saya sadar, sabar saya di bawah rata-rata. PMS dan memaksakan diri menyetir, bisa-bisa seluruh penghuni jalan bahkan polisi tidur, semuanya salah! Salah kalian! Paham?!
  • Menghadiahi diri dengan apapun yang sedang diinginkan. Salah satu gejala unik PMS saya adalah gampang lapar. Bakso hanya bertahan satu jam, lalu ingin rujak. Atau Nasi padang makan di tempat, pulangnya masih jajan cilok. Ayo saja. Sehari, saya bisa makan sampai 4 kali. Saya memaafkan ini, karena ketika sudah menstruasi, sakit luar biasa sebadan-badan itu bisa membuat saya tidak makan sama sekali dalam sehari. 

Tulisan ini juga dalam rangka mengamini PMS. Dan saya tahu, saya sedang ingin menangis. Tidak sedang bersedih, tapi ingin menangis. Lalu sedikit kesal karena tidak juga bisa menangis. Well, selamat datang di masa keabsurdan perempuan. Stay away from me. You’ve been warned.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s