Itu Ayahku Kok!

Kata orang, anak perempuan itu lebih dekat dengan ayahnya dibanding bila dengan ibunya. Lebih merasa asyik main dengan ayahnya dibanding ibunya. Aku sendiri gak ngerti itu teori dari mana. But yes, I’m totally agree with that.

Dari sepanjang ingatan yang bisa aku tangkap, hubungan antara ayah dan anak di keluarga kami memang benar-benar dekat, melebihi hubungan antara ibu dan anak. Mungkin karena berlakunya teori tadi. Ketika sama Ayah, rasa-rasanya aku bukan lagi perempuan yang berusia kepala dua yang baru aja lulus kuliah. Lebih mirip anak SD mungkin. Hehehehe. Ini yang sering bikin Ibu geleng-geleng kepala.

“Udah tua kok masih aja kayak masih kayak anak TK,” dan biasanya akan disambung ayah dengan kata-kata seperti ini.

“Kalau dilihat pacarnya gimana coba?”

Begitulah.

Sebenarnya hubungan kami pun pernah tidak sedekat ini. Aku pernah merasa gengsi untuk dekat-dekat dengan Ayah. Aku pernah menganggap Ayah adalah orang asing yang rasanya aneh kalau dicium, dipeluk, atau digandeng tangannya. Itu terjadi saat aku duduk di bangku SMA, berstatus jomblo dan penasaran sama rasanya pacaran itu kayak gimana.

Selayaknya anak-anak SMA lain, ngegosip bareng geng cewek emang paling asik. At least dengan gabung sama temen-temen cewek, aku bisa jadi lebih feminim. Aku juga pingin kali jadi wanita seutuhnya, yang jalannya gak kayak cowok, yang rok SMAnya bersih bebas bekas cat, yang rok SMAnya utuh jahitannya gak ada yang robek gara-gara main bola, nendang cowok-cowok nyebelin, atau gara-gara manjat pagar sekolah. Biarpun saat gabung dengan geng cewek di kelas, aku bakal keliatan kucel banget karena saking jarangnya merhatiin diri. It’s okay, yang penting keliatan kayak cewek.

Ketika gerombolan cewek-cewek ngumpul, seperti kata Bang Raditya Dika, yang diomongin pasti gak jauh-jauh dari cowok. Cowokku lo bla bla bla, eh cowok itu lo bla bla bla, dan masih banyak lagi. Actually, aku gak terlalu suka dengan topik ini. Pertama, karena saat itu aku gak punya gebetan apalagi pacar dan selalu ngrasa biasa aja ke temen cowok. Kedua, emangnya gak ada topik lain apa? Tempat rekreasi seru, gunung, pantai, atau apalah selain cowok.

Fyi, ayah adalah salah satu jenis laki-laki yang pada akhirnya muncul dalam obrolan kami.

Rasa aneh sama ayah muncul setelah aku denger curhatan dari temen SMA yang LDRan Malang – Ausie. Cowoknya dulu kakak kelas kami. Ganteng, keren, pinter. Kurang apa coba? Temenku sendiri juga gitu sih. Feminim, cantik, kulitnya mulus, badannya bohai, cukup imut-imut gemesin gitu deh. Ceritanya mereka pacaran sejak dia duduk di kelas 2 SMA, sedangkan mas pacar duduk di kelas 3 SMA. Saat itu, mas pacar lolos seleksi pertukaran pelajar ke Ausie sehingga harus melalui sisa tahun terakhir putih abu-abunya di negeri kanguru itu. Setelah lulus SMA pun, kayaknya mas pacar ini betah banget sama di sana. Orang tuanya juga mampu. So, kuliahlah dia di sana. Jalan 1 tahun lebih pacaran dan setahun lebih itu pula LDR antara Malang – Ausie.

Fyi lagi, jaman dulu anak SMA gak ada yang pegang smartphone, HP paling canggih adalah HP yang punya kamera dengan pixcel paling gedhe, bisa dibuat internetan, FSan (friendster, makin keliatan jadulnya lah saya), fesbukan, chattingan. Itu juga yang jadi kendala besar kalau ada yang punya hubungan kayak temenku tadi. Berat diongkos bo’! Secara komunikasi satu-satunya yang paling lancar adalah SMS, sedangkan biaya SMS ke luar negri itu yaaa lumayan krasa yaa. Internet juga masih belum terjangkau dengan begitu mudah seperti sekarang, pengen YMan? Ke warnet dooong.

Oke, back to the topic. Critanya waktu itu, cowok temenku baru pulang ke Indonesia. Seneng dong pasti temenku, bisa ketemu. Critalah dia ngalur ngidul sampai pada topik tentang ayah. She said, “aku itu sekarang risih kalau harus nyium ayah, meluk-meluk ayah. Jangankan itu, cium tangan waktu berangkat sekolah aja rasanya aneh. Ayah kan cowok juga. Ya masa sama semua cowok kayak gitu.” Waktu ituuuu… aku masih ultra o’on sehingga kata-kata itu tertelan bulat-bulat begitu saja dan memerintahkan alam bawah sadar untuk merekamnya. Dan sejak saat itu, rasanya harus pikir-pikir ulang kalau mau sentuhan sama Ayah. Nolak cipika cipiki sama Ayah setelah salim. Ada konsep besar yang bener-bener salah kaprah saat itu. Kalau sama pacar sih okay, tapi kalau sama yang lain pikir-pikir dulu ya (including Ayah). Dan karena waktu itu aku gak punya pacar, it means sama semua cowok harus pikir-pikir dulu.

Semua konsep itu akhirnya luruh lantak sama tanah ketika aku masuk kuliah dan mengharuskanku LDRan sama Ayah Ibu. Punya anak di rantau tapi jarang banget ditelpon atau SMS, ketemu cuma Sabtu Minggu doang, itu pun gak full 24 jam gara-gara mereka masih kerja. Waktu pulang lebih banyak bales dendam tidur dibanding ngobrol sama Ayah Ibu. Yes, kuliah di ITS itu artinya kamu harus mengikhlaskan waktu tidurmu buat kerjain tugas kuliah atau sibuk ngurusin bejibun kegitan kampus yang gak ada abisnya. Jadi waktu weekend itu harus bener-bener dibagi buat bales dendam tidur, refreshing, dan kumpul sama keluarga. Buat aku dan banyak teman yang lain, harus dibagi lagi dengan waktu tempuh perjalanan pulang pergi kami.

Sejak masuk kuliah terus punya pacar, konsep yang aku bawa waktu SMA itu semaakin hilang. Memangnya kenapa dengan cipika cipiki sama Ayah? Gak ada yang salah kok. Itu kan Ayahku. Makin kesini makin ngerti, bahwa cowok yang seharusnya disentuh dan di yang lain-lainin itu bukan pacar atau gebetan, tapi Ayah. Ayah lo yang ngurusin kita dari kecil, yang nyebokin kita waktu kita masih gak bisa cebok sendiri, yang setia setengah mati sama kita sekali pun hati kita mendua dengan laki-laki lain, yang masih tetep sayang sekali pun anak gadisnya udah mulai acuh sama dia.

Well, Kenapa pula harus risih cipika cipiki sama ayah, meluk ayah, gandeng tangan ayah, bermanja-manja ria sama ayah? Kenapa harus malu menunjukkan yang seperti itu di depan umum? Itu Ayah sendiri kok. Bukan om-om genit yang suka sama cewek-cewek muda. Itu Ayah sendiri yang membesarkan, menyayangi, dan menjaga sampe kapan pun juga. Sekalipun nanti punya suami atau bahkan anak, status kita gak akan pernah berubah. Kita tetep menjadi anak ayah kita yang seharusnya sama sekali gak masalah buat manja-manjaan sama Beliau.

Rumah, 19 Oktober 2015

Lelly A. Fitriana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s