hanyatulisan:

Bait Bersambung – KITAJATIM

Padanya, ingin kujelaskan makna penantian. Telah lama kutunggu, tapi tak jua bertemu. Berulang kali kuharap, tapi ternyata kau hanya berucap. Lalu salahkah jika aku mulai ragu denganmu? @hanyatulisan

Pernah kutulis beberapa tentang kita. Mau yang semanis gula atau sepahit isi dalam cangkirku. Bukannya aku kemudian lupa atau berpura-pura. Tapi untuk apa bila setelah tulisanku akhirnya kamu tak lagi
denganku. @shellydeanggra

Kopimu telah dingin tuan. Tak inginkah kau beranjak datang? Menikmati pahit manisnya kopi bersamamu yang selalu
kuimpikan. Semudah itu, tak bisakah kudapatkan? @galaksi-andromeda

Tak lagi kulihat namamu pada lembar-lembar setelah
penantian. Kini yang ada hanyalah aksara serupa gula yang diaduk dalam
gelas, lenyap tak berampas. Doa-doa tentangmu, tak lagi ku ucap kencang-kencang. Semua terasa hilang perlahan. @andinikwarman

Hai, kamu yang selalu duduk di pojok ruangan. Sadarkah dirimu mencuri segenap perhatianku semenjak aku
berdiri disini? Kamu dengan cangkir kopi pekat favoritmu terlihat tekun di
hadapan bacaanmu. Sungguh aku ingin memelukmu dan berkata, ‘sayang, aku sudah
disini’ @rizkyhanna

Ah, namun sepertinya itu mustahil. Pintaku sangat mudah sayang, menolehlah. Berikanlah sedikit senyumanmu kepadaku. Tidak inginkah kau sekedar menghargai perjuanganku yang
telah lama berdiri disini menunggumu? @hobingetik

Jika semua penantian katanya akan berkunjung dengan temu,
aku tak yakin denganmu. Karena kamu senidiri yang memilih disajikan kopi beserta
manis dan pahitnya diatas meja. Bukankah sama dengan penantian? Jika tak kau minum sekarang,
ia akan dingin dengan perlahan. Lalu, sekarang taupun nanti, apa yang bisa kau pastikan
selain rasa pehitnya? @perindupetrichor-ririnsetya

Haruskah aku berpasrah pada sang waktu? Mengijinkannya mendinginkan kopimu. Oh ya, aku lupa bahwa kau tak peduli kopimu panas atau
dingin. Sekarang kau terlena menyesap pahitnya hingga mengabaikan
segala. @tikatekita

Abaimu padaku hanya sementara saja bukan? Aku si pendiam yang selalu menjadi penunggu. Tanpa bersuara dan hanya berkata dalam diary ungu tua. Lalu, kapan kau pedulikan aku lagi tuan? @hanyatulisan

Barangkali aku harus melarut ke dalam kopimu. Bersembunyi dalam kepekatan. Meracuni segala kepahitan. Membunuh kita perlahan-lahan. @gitaberkata

Ah, bodohnya aku.aku selalu saja meracau ini itu, mengutukmu
atas segala kepahitan yang kau ciptakan. Tanpa pernah aku sadari bahwa aku menikmati segala pahit
yang kau buat. Seperti halnya aku menikmati secangkir kopi. @lellyfitriana

Secangkir kopi mengembun sejak semalam, tak tersentuh. Tak ada jejak bibirmu, hanya rindu yang baru bangun. Ia bergegas mencuci segala kenangan hingga malam. Melekatkan jejak-jejak pada jarak yang mengikat. @aidicted

Jika jarak bukan menjadi alasan untuk tidak datang, lalu mengapa kau biarkan aku disini menunggu lama sendirian? Katanya, cinta butuh perjuangan. Lalu kenapa tidak kau lakukan?? @hanyatulisan

cc: @tumbloggerkita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s