Melepaskan

“Aku udah lama gak bisa merasakan getar-getaran di hati untuk Lel, dan begitu aku merasakan hal itu ke seseorang jadinya malah berlebihan.”

Serangan fajar di pagi hari yang justru malah bikin baper sendiri. Dan mungkin di luar sana ada begitu banyak orang yang merasakan hal yang sama. Mungkin.

Ditinggalkan oleh seseorang yang kita sayangi memang menyakitkan, lebih menyakitkan lagi bila sudah membicarakan rencana pernikahan, lebih menyakitkan lagi saat gagal melamar, dan lebih menyakitkan lagi saat tiba-tiba saja setelah lamaran dilangsungkan justru tidak jadi menikah. Galau itu sudah pasti. Sakit hati juga. Dan tentunya ada berbagai reaksi yang akan kita timbulkan dari perkara tersebut. Ada yang berusaha begitu keras untuk move on, tapi ada juga masih ingin mengenang luka masa lalu.

Sayangnya, setelah move on sekali pun, kita belum bisa benar-benar menerima orang baru, seperti yang disampaikan oleh sahabat saya tersebut. Saya pribadi pernah merasakan hal tersebut, hingga saya bertanya-tanya dalam hati.

“Sebegitu keraskah hati ini hingga tak mampu merasakan apa pun?”

Dan setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik hati dan memunculkan segala gejolak-gejolak asmara. Pikiran pun melayang menerawang menembus jauh ke depan. Harapan membumbung begitu tinggi akan sosok baru tersebut. Sayangnya, dia yang sudah sukses membuat kita sampai seperti itu tidak selalu tau atau merasakan hal yang sama. Patah hati lagi deh. Hahaha.

Pernahkah berpikir kenapa kita begitu mudah jatuh cinta dan begitu mudah patah hati?

Semoga kita sadar bahwa hati kita bukanlah milik kita sendiri. Kita hanya diijinkan untuk merasakan segala gejolak yang ada di sana. Sedangkan kita sendiri bahkan tak bisa dan mampu untuk sepenuhnya mengendalikannya. Ada Allah yang Maha Memiliki. Jangan-jangan kita seperti itu karena Allah sedang cemburu. Cemburu karena kita terlalu sibuk memikirkan hamba-Nya, sedangkan kita lupa dengan Sang Pemilik, bahkan mengabaikan-Nya. Astaghfirullah hal’adzim…

“Semakin besar kamu mencintai seseorang, semakin besar kamu punya keinginan untuk memilikinya dan menjadikan dia pendamping hidupmu, semakin besar pula kamu harus melepaskan semua keinginanmu dan menyerahkan semua keinginanmu pada-Nya. Dekati Dia, rayu Dia, dan usahakan dia dengan hal-hal yang tidak membuat-Nya murka. Karena ujian terbesar dari menjaga hati bukan saat kamu disakiti, tapi saat kamu jatuh cinta. Kendalikan cintamu, jangan biarkan cinta yang mengendalikan dirimu.”

Apakah harus seperti itu? Ya, harus. Kenapa? Agar tidak berlebihan. Biarkan semua berjalan sesuai kadarnya.

Semoga hati kita tetap dalam naungan iman. 🙂

Malang, 1 Oktober 2015

Lelly A. Fitriana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s