Ramadhan #10 : Tentang Kesabaran

kurniawangunadi:

Pada level keimanan tertentu, seseorang mungkin sangat bisa bersabar ketika diuji dengan musibah. Hatinya terbiasa lapang dengan meyerahkan semuanya pada Dia Yang Maha Kuasa. Jiwanya sudah terbiasa ridho dengan segala ketetapan Tuhannya. Hingga membuat kita berdecak kagum sambil berkomentar, “Kok bisa ya?”

Sementara itu, pada level keimanan tertentu yang lain, kita lihat seseorang yang begitu istiqomah dalam rutinitas ibadahnya. Sabar dalam ketaatannya. Ibadah wajib dan sunnah dijalaninya dengan begitu ringan. Langkah-langkah kakinya dalam rangka mengajarkan kebaikan Tuhannya begitu ringan terayun. Pun demikian pula begitu mudahnya ia mendatangi majelis-majelis ilmu. Tak lupa ia tunaikan hak-hak sesama makhluk Tuhan di sekitarnya. Wajahnya terang, tutur katanya terjaga, hatinya lembut, dan perangainya pun mulia, mencoba meneladani junjungan tercinta. Hingga segenap kita merasa sungkan bila berhadapan dengannya, sembari berkata dalam hati, “Melihatnya saja rasanya hati ini adem.”

Seringkali hati ini iri dengan mereka yang kesabarannya begitu kuat. Ingin rasanya mencontoh sikap hidup seperti itu. Begitu tenang. Begitu ikhlas. Sementara diri ini terasa begitu jauh dari sifat-sifat mulia. Lihatlah betapa emosionalnya diri ini ketika menghadapi permasalahan hidup. Begitu cepatnya menyalahkan keadaan bahkan Tuhan atas setiap kemalangan yang menimpa.

Ketika ramadhan tiba pun demikian keadaannya. Menahan lapar dan haus mungkin bukan hal yang berat. Menunda makan hingga pada saatnya mungkin juga mudah dilakukan. Tapi bagaimana dengan menahan amarah? Bagaimana dengan menahan lisan agar selalu santun dan tak membicarakan orang lain? Pun bagaimana dengan tarawih dan tadarus? Sudahkah ia diniatkan untuk mendekat pada-Nya, bukan sekedar memenuhi rutinitas dan kebiasaan? Bila tarawih saja diri ini masih saja memilih jumlah rakaat terpendek, membaca surat-surat terpendek, bahkan terkadang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sementara Alqur’an dibaca hanya untuk memenuhi target khatam 30 juz dalam 1 bulan. Doa jelang berbuka? Ah, diri yang lalai ini malah menyibukkan diri dengan agenda ngabuburit bersama rekan.

Begitu mudahnya diri ini lupa akan hakikat dan makna ramadhan. Bulan dimana telah diperintahkan-Nya kita untuk senantiasa bersabar dalam ketaatan pada-Nya.

Sabar dalam musibah yang Dia ujikan memang bukan hal yang sepele. Namun sabar dalam ketaatan tak kalah istimewanya. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, benarkah ada kesabaran dan keikhlasan dalam ramadhan kita kali ini.

Pengirim Tulisan :
Nia Febrianti
sang-pengembara.tumblr.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s