Kalau kita bisa terenyuh sama apa yang terjadi di sana. Kenapa yang demikian bisa terlupa begitu saja? Bukankah ini masih salah satu dari sekian banyak contoh yang ada di negri ini?

rufisa:

Inikah yang sering kita sebut-sebut majas litotes dalam pelajaran Bahasa Indonesia: Mampirlah ke gubuk kami.

Sayangnya, bagi mereka ini adalah sebuah istana…

Rumah sederhana ini milik keluarga kecil yang bahagia. Jejak kaki saya sudah sampai di pengolahan limbah pasir (liar) di Kampung Tembesi, Batam, Kepulauan Riau dan berjumpa dengan Ronaldo kecil. Yap, bertambah lagi gambaran hidup manusia dalam catatan saya, manusia-manusia yang sedang berjuang untuk bertahan, yang dengan itu pula mengajarkan saya untuk selalu bersyukur.

“Mampirlah ke istana kami…” sungguh ini litotes terbalik bagi mereka yang bersyukur. Saya sudah mampir! 🙂

24 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s